06.04.08
Berda’wah dengan Cinta
Beberapa hari terakhir sempat tercengang ketika melihat dilayar kaca berita tentang kekerasan penyerangan beberapa ormas islam kepada ormas yang lainnya. Belum lagi permasalahan “Penistaan” agama yang tak kunjung di selesaikan pemerintah yang berdampak pada multiple effect pada masyarakat indonesia.
Berikut sebuah catatan dari Ahmad Syafii Maarif yang menarik untuk kita simak dan pelajari :
QS Yunus Ayat 99-100
Arti selengkapnya dari surat Yunus ayat 99 ini adalah:
“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua manusia yang ada di muka bumi. Lantaran itu, patutkah engkau memaksa manusia agar mereka beriman seluruhnya?”
Ayat 100 berikutnya:
“Dan tidaklah seseorang akan beriman, melainkan dengan izin Allah.”
Artinya, untuk beriman perlu lampu hijau dari Allah, menurut ayat ini. Tanpa perkenan dari Yang Maha Pemberi Izin, iman itu tidak akan terjadi. Sebab itu, menurut surat Makkiyyah ini, setiap paksaan untuk beriman, halus apalagi kasar, sepenuhnya melanggar ketentuan Allah.
Adapun menyampaikan dakwah agar manusia mau beriman, jelas merupakan kewajiban agama. Tetapi dalam proses dakwah itu, unsur paksaan dilarang keras. Sebenarnya jika mau jujur, di antara metode dakwah yang paling efektif ialah dakwah dengan contoh perbuatan. Tidak usah jauh-jauh mencari contoh. Di sebuah RT, misalnya, ada dua keluarga Muslim yang jadi buah bibir masyarakat sekitarnya dalam arti positif, padahal lingkungannya mayoritas non-Muslim. Orangnya ramah, sopan, suka memberi siapa saja, tidak terikat dengan agama yang dipeluknya. Penampilannya tidak dibuat-buat, lumrah, semuanya autentik sebagai tanda percaya diri yang tinggi. Jika ada kematian di RT itu, keluarga Muslim itu cepat turun tangan untuk mengulurkan bantuan apa yang mungkin. Dunia fitnah dijauhinya. Menghukum mereka yang seagama tetapi tidak sepaham dalam penafsiran, pantangan baginya. Kenisbian manusia untuk menangkap yang mutlak adalah pegangan utamanya dalam beragama. Seluruh warga RT itu merasa akan sangat kehilangan jika dua keluarga Muslim itu pindah ke tempat lain. Di mana-mana akan terdengar ucapan: “Aduh, mengapa si anu itu pindah dari lingkungan kita, padahal kita sangat memerlukannya agar tetap bersama kita di sini, sekalipun kita berlainan agama.”
Contoh yang saya berikan ini bukanlah sesuatu yang asing, semuanya empirik, dapat dilakukan siapa saja, apa pun agama yang dipeluknya. Jika kemudian ada yang tertarik untuk mengikuti agama dua keluarga Muslim itu secara sadar, tanpa ada tanda-tanda paksaan, maka boleh jadi izin Allah untuk beriman itu memang sedang berlaku. Teladan yang ditunjukkan dua keluarga Muslim itu semata-mata sarana bagi keluarnya izin itu. Tidak lebih dari itu.
Saya punya pengalaman khas tentang hal yang mirip, saat saya kuliah dengan Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Mahasiswa yang ikut kuliahnya berasal dari bermacam agama: Katolik, Protestan, Shinto, Yahudi, dan Muslim. Dengan kepercayaan diri yang sangat kuat, Rahman dalam seluruh kuliahnya tidak ada bayangan agar mahasiswanya menjadi Muslim. Mungkin Rahman berpendapat, daripada menambah pengikut, lebih baik jumlah Muslim sedunia di atas satu miliar itu ditingkatkan kualitasnya.
Tetapi, apa yang terjadi? Beberapa mahasiswanya yang non-Muslim saya dengar belakangan telah menjadi Muslim atau Muslimah, sesuatu yang tidak diniatkan Rahman sewaktu memberi kuliah. Metode perkuliahan yang mendalam, objektif, tanpa basa-basi, rupanya telah bersarang secara diam-diam dalam otak dan hati para mahasiswanya. Maka, terjadilah apa yang terjadi. Izin Allah rupanya berlaku melalui cara-cara yang tak disengaja itu. Tentu saja ruh Rahman di alam baka tersenyum menyaksikan apa yang terjadi pada sejumlah mantan mahasiswanya, sebagian adalah teman-teman sekelas saya. Sebab itu, Anda janganlah terlalu bernafsu untuk ‘menaklukkan’ dunia agar beriman seperti Anda. Biarlah proses itu berjalan secara wajar. Bukankah kualitas itu jauh lebih penting dari kuantitas, jika kuantitas itu tidak lebih dari beban sejarah?
Dua contoh, RT dan Rahman, mungkin dapat dijadikan bahan renungan: satu untuk akar rumput, yang lain untuk tingkat yang lebih tinggi. Tetapi ingat, Rahman pernah dihalalkan darahnya di Pakistan, tanah airnya, oleh mereka yang wawasan keagamaan dan kemanusiaannya hanyalah sebatas tuturan atapnya, atau paling jauh sebatas halaman rumahnya. Kata pepatah: “Jika kail panjang sejengkal, janganlah laut hendak diduga!” Mari kita sama-sama belajar dari sumber yang beragam untuk saling bertukar pendapat dengan cara yang santun, jujur, dan mendalam. Musuh terbesar kita adalah kedangkalan dan sifat memonopoli kebenaran.
Semoga dari uraian diatas bermanfaat bagi kita semua, dan menjadikan kita bisa lebih bijak dalam menggarap lahan da’wah. Bukankah islam rahmatan lil alamin ?
cahpemalang said,
5 June, 2008 at 6:53 am
Berdakwah dengan Cinta, ya Rasulullah juga pernah berdakwah dengan cara akhlaknya, yaitu pendekatan, uswatun khasanah dan suara yang lemah lembut, akan tetapi jika ada sekumpulan orang yang melecehkan agama kita, menghina nabi kita, tidak menganggap Nabi Muhammad adalah Nabi yang terakhir itu yang patut diberantas. Aliansi Kebebasan Agama dan Berkeyakinan itu mendukung adanya Ajaran Ahmadiyah, sedangkan ajaran Ahmadiyah sudah dilarang diindonesia karena tidak menganggap bahwa Nabi Muhammad bukan nabi mereka,mengakunya orang islam tapi tidak mengaku adanya Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, memang diakui perbuatan yang dilakukan oleh FPI tidak bisa dibenarkan,karena tindak kekerasan hanya kepada orang-orang yang menghina agama kita, jangan kepada perempuan dan anak kecil, klo pendapatku salah beri komentar.. thanks…
bluetux said,
8 June, 2008 at 7:21 am
Rosul mencintai perdamaian, tetapi rosul juga mengajarkan kita untuk memakai kekerasan untuk melawan kedholiman apa lagi penghinaan kepada Islam. mari kita melihat lebih objektif
coklat said,
10 June, 2008 at 4:26 am
komunikasi menjadi komponen yg urgent.bagaimana sesuatu itu(bisa dakwah, bisa penawaran,etc) ingin di sampaikan ke target yg dimaksudkan memnag membutuhkan struktur komunikasi, terutama formula kata dan senyawa kalimat yang tersusun, sehingga target menangkap apa yang dimaksudkan.contoh adalah fathul makkah. sebuah proses komunikasi dan lobying tingkat tinggi yang sukses. Nabi memenangkan sebuah peperangan tanpa melakukan pertempuran. tanpa korban, tanpa penderitaan. pihak lawan kalah tapi tidak merasa kalah.
upaya ini menjadi prioritas, tanpa menafikan cara yang lain.dari kacamata islam, adu fisik adalah sebuah perlawanan,pembelaan. “janganlah cari musuh, tapi kalau ketemu musuh jangan lari, kecuali untuk siasat”.
seringkali dengan komunikasi, hasilnya lebih dahsyat daripada sebuah pertempuran.
dakwah memang membutuhkan kesabaran,penuh rintangan,jalan yang terjal dan panjang. kalau di perjalanan dakwah dihadang dengan pertempuran,tanggapi dengan pertempuran, kalao dakwah di hadang dengan public opinion, hadapi dengan hal public opinion.
tapi kadang umat terjebak pada perangkap2 lawan, sehingga langkahnya bisa kendalikan oleh lawan.
sehingga yang terjadi saat ini, Islam vs Islam.lawan sebagai penontonnya. lawan memenangkan peperangan dengan kekuatan Islam sendiri. ingat jurusnya wong fei hong dengan tai ci masternya,mematahkan perlawanan musuh dengan kekuatan musuh itu sendiri.
jepe said,
11 June, 2008 at 4:32 am
@ coklat
sippp, spokat
hyorinmaru said,
11 June, 2008 at 5:56 pm
Satu saat qt tlh brbuat baik,tp trnyta lum bnr; n d saat lain,qt brbuat bnr tp msh dg krg baik..
cahpemalang said,
13 June, 2008 at 8:03 am
@coklat
strategi berdakwah memang sangat penting ya mas…
terkadang memang kita terlalu terjerumus dengan emosi kita sendiri..
klo berdakwah masih dengan emosi bisa dikendali musuh yang bisa menggunakan akal/tipu muslihat
mantap mas..
@hyorinmaru
????????
gokimhock said,
13 June, 2008 at 1:56 pm
Berda’wah dengan Cinta?
Kebanyakan orang menafsirkan Cinta adalah menikah. So. Mari berda’wah dengan menikah. Kalau lagi ‘pacaran’, ntah lewat SMS, Telepon, Surat atau Wakuncar… Ayo mari kita berda’wah. Berpahala!
AsyhadiOne said,
15 June, 2008 at 1:05 pm
Kirain judul nya tentang apa! Eh ternyata ahmadiyah
wkwkwk Kirain bakal ngbahas tentang anak2 WAMIKA yg dapet cinta di WAMIKA. Fufufu who next?
@coklat
Wuih… Cool explanation lah.. Malah kayaknya itu cocok jadi posting blog tersendiri… Bukan komen, soale dalem banged bang